The Hyena & Other Men by Pieter Hugo
The Dog’s Master, story by Pieter Hugo.
These photographs came about after a friend emailed me an image taken on a cellphone through a car window in Lagos, Nigeria, which depicted a group of men walking down the street with a hyena in chains. A few days later I saw the image reproduced in a South African newspaper with the caption ‘The Streets of Lagos’. Nigerian newspapers reported that these men were bank robbers, bodyguards, drug dealers, debt collectors. Myths surrounded them. The image captivated me.
Through a journalist friend I eventually tracked down a Nigerian reporter, Adetokunbo Abiola, who said that he knew the ‘Gadawan Kura’ as they are known in Hausa (a rough translation: ‘hyena handlers/guides’).
A few weeks later I was on a plane to Lagos. Abiola met me at the airport and together we took a bus to Benin City where the ‘hyena men’ had agreed to meet us. However, when we got there they had already departed for Abuja.
In Abuja we found them living on the periphery of the city in a shantytown - a group of men, a little girl, three hyenas, four monkeys and a few rock pythons. It turned out that they were a group of itinerant minstrels, performers who used the animals to entertain crowds and sell traditional medicines. The animal handlers were all related to each other and were practising a tradition passed down from generation to generation. I spent eight days travelling with them.
The spectacle caused by this group walking down busy market streets was overwhelming. I tried photographing this but failed, perhaps because I wasn’t interested in their performances. I realised that what I found fascinating was the hybridisation of the urban and the wild, and the paradoxical relationship that the handlers have with their animals - sometimes doting and affectionate, sometimes brutal and cruel. I started looking for situations where these contrasting elements became apparent. I decided to concentrate on portraits. I would go for a walk with one of the performers, often just in the city streets, and, if opportunity presented itself, take a photograph. We travelled around from city to city, often chartering public mini-buses.
I agreed to travel with the animal wranglers to Kanu in the northern part of the country. One of them set out to negotiate a fare with a taxi driver; everyone else, including myself and the hyenas, monkeys and rock pythons, hid in the bushes. When their companion signalled that he had agreed on a fare, the motley troupe of humans and animals leapt out from behind the bushes and jumped into the vehicle. The taxi driver was completely horrified. I sat upfront with a monkey and the driver. He drove like an absolute maniac. At one stage the monkey was terrified by his driving. It grabbed hold of my leg and stared into my eyes. I could see its fear.
Two years later I decided to go back to Nigeria. The project felt unresolved and I was ready to engage with the group again. I look back at the notebooks I had kept while with them. The words ‘dominance’, ‘codependence’ and ’submission’ kept appearing. These pictures depict much more than an exotic group of travelling performers in West Africa. The motifs that linger are the fraught relationships we have with ourselves, with animals and with nature.
The second trip was very different. By this stage there was a stronger personal relationship between myself and the group. We had remained in contact and they were keen to be photographed again. The images from this journey are less formal and more intimate.
The first series of pictures had caused varying reactions from people - inquisitiveness, disbelief and repulsion. People were fascinated by them, just as I had been by that first cellphone photograph. A director of a large security company in the USA contacted me, asking how to get in touch with the ‘hyena group’. He saw marketing potential: surely these men must use some type of herb to protect themselves against hyenas, baboons, dogs and snakes? He thought that security guards, soldiers and his own pocket could benefit from this medicine.
Many animal-rights groups also contacted me, wanting to intervene (however, the keepers have permits from the Nigerian government). When I asked Nigerians, “How do you feel about the way they treat animals”, the question confused people. Their responses always involved issues of economic survival. Seldom did anyone express strong concern for the well-being of the creatures. Europeans invariably only ask about the welfare of the animals but this question misses the point. Instead, perhaps, we could ask why these performers need to catch wild animals to make a living. Or why they are economically marginalised. Or why Nigeria, the world’s sixth largest exporter of oil, is in such a state of disarray.

The Dog’s Master, story by Pieter Hugo.
Foto-foto ini pada awalnya, ketika seorang teman mengirimkan e-mail ke aku. Di dalamnya ada sebuah foto yang di ambil lewat handphone melalui sebuah jendela mobil di Lagos, Nigeria. Di mana terlihat sekelompok pria berjalan menyusuri jalanan dengan seekor hyena yang dirantai. Beberapa hari setelah itu aku melihat reproduksi gambar tersebut di sebuah terbitan harian Afrika Selatan dengan judul ‘The Street of Lagos’. Koran-koran Nigeria melaporkan bahwa pekerjaan sekelompok pria tersebut adalah perampok bank, bodyguards, pengedar obat terlarang, dan debt collector. Mitos-mitos tersebut mengelilingi mereka. Gambar tersebut menarik perhartianku.
Melalui temanku yang seorang wartawan, aku akhirnya menghubungi seorang reporter Nigeria bernama Adetokunbo Abiola, yang mengatakan bahwa dia tahu “Gadawan Kura” yang di ketahui sebagai Hausa (pengawal hyena).
Beberapa minggu kemudian aku telah berada di dalam sebuah pesawat menuju Lagos. Abiola menemuiku di airport dan bersama-sama kami naik bis menuju Benin City, di mana di sana si pawang hyena telah sepakat untuk bertemu kami. Bagaimanapun, waktu kami sampai di sana mereka sudah berangkat ke Abuja.
Di Abuja, kami menemukan mereka hidup di pinggiran kota di Shanty town -kumpulan pria, gadis kecil, 3 hyena, 4 baboon dan beberapa ular piton karang-. Ini menandakan bahwa mereka merupakan sekumpulan pengembara, performer yang menggunakan binatang untuk menghibur orang-orang dengan tujuan untuk menjual obat. Para pawang-pawang binatang tersebut saling berhubungan satu sama lain dan belajar tradisi turun-temurun dari generasi ke generasi. Aku menghabiskan 8 hari perjalanan, berkeliling bersama mereka.
Pemandangan yang terlihat ketika mereka berjalan di pasar yang ramai tersebut sangat mencolok. Aku mencoba untuk memotret tapi gagal, mungkin karena aku tidak tertarik dengan performance mereka. Aku sadar bahwa apa yang aku temukan itu bagus merupakan sebuah perpaduan antara urban dan alam liar, dan sebuah hubungan paradoksial antara pawang dengan binatangnya, yang kadangakala terlihat penuh kasih sayang, kadang juga brutal dan kejam. Aku mulai untuk melihat situasi di mana ada elemen yang kontras menjadi tampak jelas. Aku memutuskan untuk berkonsentrasi pada foto-foto portrait. Aku akan fokus berjalan dengan 1 performer, seringnya hanya di jalan kota dan jika beruntung, aku dapat mengambil foto mereka. Kami berkeliling dari kota ke kota, seringnya kami menyewa sebuah mini bus.
Aku setuju untuk melakukan perjalanan bersama penjinak-penjinak binatang tersebut menuju Kanu di sebelah utara negara itu. Salah satu dari mereka bernegosiasi soal ongkos dengan sopir taksi, yang lain, termasuk aku dan hyena, baboon dan ular-ular piton, bersembunyi dibalik semak-semak. Ketika terlihat sinyal, tanda persetujuan ongkos dengan sopir taksi sepakat, serombingan sirkus, baik manusia maupun hewan keluar dari semak-semak dan melompat ke dalam kendaraan tersebut. Sopir taksi benar-benar terlihat kuatir. Aku duduk didepan bersama baboon dan sopir. Dia menyetir seperti seorang maniak ugal-ugalan. Disatu sisi baboon itu terlihat ketakutan dengan cara menyetirnya. Baboon itu mencengkeram kakiku dan memandangi mataku. Aku melihat ada ketakutan di sana.
Dua tahun sesudahnya aku memutuskan untuk kembali ke Nigeria. Proyek ini terasa tak terselesaikan dan aku siap untuk bergabung dengan grup itu lagi. Melihat dari catatanku seharunya aku berada bersama mereka. Kata-kata dominan, rasa ketergantungan, dan penyerahan selalu ada. Gambar-gambar tersebut melukiskan lebih dari hanya sebuah kelompok performer di Afrika Barat. Kenyataan yang tetap tinggal adalah telah kuatnya hubungan yang kami miliki antara diri kami sendiri, dengan binatang dan dengan alam.
Perjalanan kedua kami sangatlah berbeda. Dari sini ada sebuah hubungan personal yang lebih kuat antara aku dan grup tersebut. Kami tetap saling kontak satu sama lain dan kami tertarik untuk memotret lagi. Gambar-gambar dari perjalanan tersebut menjadi tidak terlalu formal dan terasa lebih intim.
Seri pertama gambar-gambar tersebut menimbulkan berbagai reaksi masyarakat, keingintahuan, rasa tidak percaya dan rasa jijik. Masyarakat terpesona dengan mereka, seperti ketika aku melihat gambar dari handphone temanku sebelumnya. Seorang direktur dari sebuah perusahaan jasa keamanan di Amerika menghubungiku, kemudian bertanya bagaimana aku dapat hidup dekat dengan kelompok pawang hyena tersebut? Dia sepertinya melihat sebuah potensi pasar di situ. Tentunya orang ini berpikir bahwa cukup hanya dengan menggunakan sejenis obat herbal untuk melindungi mereka dari gigitan hyena, baboon, anjing, dan ula-ular tersebut. Dia berpikir bahwa penjaga keamanan, prajurit dan atau kantongnya dapat mendapatkan keuntungan dari obat-obatan tersebut.
Banyak kelompok pejuang hak binatang juga menghubungiku, ingin untuk campur tangan di dalamnya (bagaimanapun, pawang tersebut harus memiliki ijin dari pemerintah Nigeria). Ketika aku bertanya pada orang-orang Nigeria, “bagiamana perasaanmu dengan cara mereka memperlakukan hewan-hewan tersebut”? Pertanyaan ini membingungkan mereka. respon mereka selalu melibatkan tentang isu-isu ekonomi yang relevan dengan bagaimana cara untuk bertahan hidup. Jarang mereka mengekspresikan minat yang kuat terhadap sebuah kehidupan makhluk hidup di luar manusia. Orang eropa tanpa kecuali hanya bertanya tentang kenyamanan hidup dari binatang-binatang tersebut tapi pertanyaan ini selalu melenceng.
Sebagai gantinya, mungkin kita dapat bertanya kenapa orang-orang ini butuh menangkap binatang liar untuk bertahan hidup, atau mengapa mereka termaginalkan secara ekonomi? Atau kenapa Nigeria yang notabene negara keenam pengekspor minyak terbesar di dunia, berada di dalam sebuah kekacauan seperti itu. (alih bahasa Siska Rahardiyanti)






sip project:) sip to survive
manusiajuga makan hampir semua binatang, kan?
love your story. it’s fascinating. having that monkey look into your eyes while clutching your thigh must have been terrifying for a moment. and terribly sad too.
Pieter, this is beautiful: the story, the images. i’m west african, and when i first heard of this, i immediately assumed the people were from southeast africa. while there is a delicate balance to maintain in the man/animal relationship, we africans see things a lot differently than westerners. funny how one group would like to have the nigerian government clamp down on the handlers, while the other would like to know how hyenas can be used in war. funny, isn’t it? that’s why most africans are skeptical of western [ mostly american ] intervention: it always takes suppressive edge, no matter how it’s presented.
ah africa .. country with lion heart
nice info for me ..