Self Portrait Series by Levy Van Veluw
Statement
The images that I make consist of often unlogical combinations of materials, patterns, colours, forms, with my head as the only constant factor. Each element is consciously chosen so as to affect a pre-determined transformation. By playing with the value of the each material and by using them for a purpose that was not originally intended for them, I construct within the image, in a very small way, a different perspective on the world.
In most cases it is my head that is the carrier of these transformations and combinations. The expressionless, and almost universal face, allows the viewer to project himself onto the work. Because the works have really existed and have not been digitally manipulated, each image contains a short history of a performance.
Repetition is a theme I find very interesting as you can use it for different ends. By for example using the same head and facial expression, the person slowly becomes of secondary importance to the form. The elements that remain constant lose their value and the elements that change, become the subject of the work. In this way I create a shift in the hierarchy of values.
The commonplace notion of the ‘aesthetic’ image is that which is free of unsatisfactory characteristics and general human imperfections. This in my opinion is the most superficial form of beauty. In my work I attempt to create a different form of aesthetic. The unusual and unimpressive materials, traces of glue and other imperfections that exist in the production of the work are what form the aesthetic value in my image. This revaluation of these normally insignificant elements only occurs because they now exist in a new context that distances them from their original circumstances and associations.
The concept for ‘Carpet’ emerged from an argument I had had with a friend. Having calmed down, I began to ask whether my stance in the heated discussion had been correct. The empty and displeasing feeling that accompanied this reflection, raised the question whether being hypocritical was really so bad. The realization that everything has another side has become a point of interest in my work. If you can even inspect an atom from two sided then surely my opinion must have its counterpoint.
I became more and more aware that all objects, materials, events are assigned a commonly held value, but that this valuation could just as easily be different. It was those elements that nobody had an opinion about that then became most interesting to me. Because they seem to contain little meaning to people, they are malleable and can easily have their perceptions about them altered.
My work amounts to small researches into the valuations we assign to the things around us and the associations they engender in this way. Although these underlying reasons are not immediately apparent in the work, a very specific unsettling reaction is invoked in the viewer. Although the cause of this reaction is a mere piece of grey carpet, it is logical that people react to it in this way as the viewer is essentially forced to review his commonly-held notions about this material. The image succeeds in shifting the viewer’s perception, be it in a very small way and about an unimportant subject.

Statemen
Imaji yang aku buat seringkali terdiri dari kombinasi material yang tidak logis, pola, warna, bentuk, dengan kepalaku yang terus-menerus menjadi medianya. Setiap elemen adalah sesuatu yang benar-benar aku pilih untuk menghasilkan transformasi. Bermain dengan nilai setiap material dan kemudian menggunakannya pada tempat yang tidak seharusnya, aku membangun kedalaman imaji, dengan segera, sebuah perspektiv berbeda terhadap dunia.
Hal paling terpenting adalah kepalaku menjadi media transformasi dan kombinasi. Tanpa ekspresi, dan hampir sama dengan wajah-wajah pada umumnya, memungkinkan penonton untuk menjadikan diri mereka sendiri berada di dalam karya ini. Karena karya ini benar-benar seperti hidup dan tanpa rekayasa manipulasi digital, setiap imaji menguraikan cerita singkat tentang proses produksinya.
Pengulangan adalah sebuah tema yang kutemukan paling menarik yang dapat anda gunakan untuk tujuan yang berbeda-beda pula. Dengan menggunakan contoh kepala yang sama dan ekspresi wajah yang sama, orang itu perlahan-lahan menjadi wujud tidak penting lagi. elemen-elemen yang tersisa terus-menerus kehilangan nilainya dan berubah, menjadi subyek karya ini. Dengan jalan seperti itu aku mengubah hirarki terhadap nilai-nilainya.
Dalam pengertian umum tentang ‘estetika’ yang mana imaji itu dibebaskan dari sifat ketidakpuasan dan sifat-sifat manusia secara umum yang tentunya tidak sempurna. Ini adalah pikiranku yang paling dangkal terhadap bentuk/wujud kecantikan. Dalam berkarya aku berusaha untuk membuat bentuk estetis yang berbeda-beda. Benda-benda tidak biasa dan juga tidak terlalu mengesankan, bekas-bekas lem dan ketidaksempurnaan lainnya melekat di dalam produksi karya ini yang akhirnya membentuk nilai estetis imajiku. Penilaian kembali secara normal elemen-elemen yang tidak penting hanya terjadi karena hal-hal tersebut telah eksis dengan konteks yang baru dan hanya akan memberikan mereka jarak dari kenyataan yang sebenarnya dan kelompoknya.
Untuk konsep ‘karpet’ hadir setelah berdebat dengan seorang temanku. Setelah menenangkan diri, aku mulai bertanya apakah pendirianku dalam perdebatan tadi itu benar. Kekosongan dan rasa tidak menyenangkan hadir dalam renunganku, dan kemudian timbul pertanyaan apakah menjadi seorang yang munafik adalah hal yang benar-benar buruk. Perwujudan dari semua hal itu menjadi poin yang menarik dari karyaku ini. Walaupun kamu bahkan dapat melihat secara detil keseluruhan bagian itu kemudian tentu saja pikiranku seharusnya memiliki counterpoint.
Aku menjadi lebih memahami setiap object, material, bahkan nilai-nilai yang dipahami bersama, tetapi nilai-nilai itu bisa dengan mudah menjadi berbeda. Sebelumnya elemen-elemen tersebut tak seorangpun memikirkannnya kemudian menjadi sesuatu yang paling menarik bagiku. Karena hal-hal itu tampak remeh artinya bagi orang lain, hal-hal tersebut dengan mudah dibentuk dan begitu mudah pula maknanya berubah.
Karyaku seperti sebuah riset kecil untuk menghargai setiap hal yang berada di sekeliling kita dan kumpulan-kumpulan hal tersebut yang menyebabkan ini terjadi. walaupun ini menjadi dasar pertimbangan tapi tidak segera nampak dalam karya ini, secara spesifik sangat mengguncang reaksi para penontonnya. Walaupun maksud sambutannya itu tidak lebih dari potongan karpet abu-abu, sangat logis jika orang-orang memberikan reaksi seperti itu atas dasar seperti itulah penonton dipaksakan untuk melihat kembali kebiasaannya. Imaji tersebut berhasil menggeser persepsi penonton, menjadi lebih terarah dan tidak sekedar menjadi subjek yang remeh. (alih bahasa Jimbo)
For full information about Levy let’s jump






prima!
SUPER!
Muda & Berbakat!
“the works have really existed and have not been digitally manipulated, each image contains a short history of a performance”
SUGOI NEEEEE!!!!
maksyusss..