Concrete Euphoria & Conveyance by Mintio interviewed by Dito Yuwono.

What makes you interested in photography?

I think my relationship with photography has gone beyond being an interest. It is the feeling I get when I wake up every morning and the only thing I want to do is to make images. I’m clueless in describing something that has always been part of my being.

It seems to me that you are interested in city light and tend to make it your object of photography, can you please explain me why?

My obsession with urban landscapes came from the desire to document the relentless construction and progress of the many cities in Asia. In this century, Asian cities are undergoing an unprecedented growth in urban activity. Having grown up in Singapore, the lights of cranes, street lamps and glossy architecture sits deeps within my memories and photography has been a tool that I use to cope with the constant change in our landscape.

Your works, “Concrete Euphoria” and “conveyance” looks very appealing and unique, can you please explain me the working process?

These two series were shot with a large format camera, on 4×5 transparencies. Each image is created entirely in camera, with multiple and extended exposures lasting from 20 mins to an hour each. In creating kaleidoscope-like multiple exposures, the camera takes a step to render familiar places as fantastical and sublime, so that the city may be seen with new eyes.

So, you don’t use digital process in your works, do you have a certain reason why? and what do you want to achieve through that?

When a photographer commits his/her life to a particular process, the act making images evolves into a kind of philosophy and discipline. Shaping that discipline to the uniqueness of each photographer’s personality is what defines him/her. For my practice, I feel that keeping to the very traditional methods like using film and with that, creating images that are contemporary is that defines me.

What would you like to say through your works?

I think I am more interested in hearing what people have to say in viewing my works.

What’s inspires you?

Everyday-people who work hard and believe, to the fullest, in their own vision of the world.

How does Singapore affect your work of arts?

Singapore being my home, carries a lot of attachments that are personal to me. That probably has, on a subconscious level, affected the way I make work. Yet I hope that one day, in return, my work will affect Singapore in it’s every positive way possible.

Thank you very much for your time, any last words?

Thank you very much for this interview too.

conveyance

Apa yang membuat anda tertarik dengan fotografi?

Saya pikir hubungan saya dengan fotografi telah melampaui apa yang dimaksudkan dengan minat atau ketertarikan saja. Ini adalah dorongan perasaan yang kudapatkan, ketika saya bangun setiap pagi dan satu-satunya yang ingin kulakukan adalah membuat gambar. Saya agak sedikit kesulitan dalam menggambarkan sesuatu yang selalu menjadi bagian dari keberadaan diriku.

Bagi saya bahwa sepertinya anda tertarik dengan cahaya kota dan cenderung membuatnya sebagai objek fotografi anda. Tolong dijelaskan kenapa?

Obsesi saya dengan lanskap perkotaan berasal dari keinginan untuk mendokumentasikan pembangunan tanpa henti dan perkembangan banyak kota di Asia. Pada abad ini, kota-kota Asia mengalami pertumbuhan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam kegiatan perkotaan. Setelah tumbuh besar di kota Singapura. Lampu-lampu crane, lampu-lampu jalanan dan kilauan arsitektur menjadi sesuatu yang kuat didalam memoriku dan fotografi telah menjadi alat yang saya gunakan untuk mengatasi perubahan konstan dalam lanskap kami.

Kedua karya anda “concrete Euphoria’ dan “conveyance” terlihat sangat menarik dan unik. Bisa anda ceritakan bagaimana proses kerjanya?

Dalam seri karyaku ini aku menggunakan kamera analog format besar, menggunakan film transparansi 4×5. Setiap gambar dibuat seluruhnya di kamera, dengan teknik multiple eksposure dan eksposure yang cukup lama, kira-kira 20 menit untuk setiap layer dan dengan total durasi satu jam untuk setiap karya. Dalam menciptakan kaleidoskop seperti multiple exposure, kamera mengambil peran untuk menjadikan tempat-tempat yang akrab dan lazim menjadi sesuatu yang fantastis dan agung, sehingga kota bisa dilihat menjadi sesuatu yang baru.

Jadi, anda tidak menggunakan proses digital dalam karya anda, apakah anda punya alasan tertentu? kenapa? dan apa yang ingin anda capai melalui proses ini?

Saat seorang fotografer melakukan komitmen hidupnya untuk suatu proses tertentu, tindakan membuat gambar berevolusi menjadi semacam filsafat dan disiplin. Disiplin itu membentuk kepribadian yang unik masing-masing fotografer, kemudian menjadikan seperti apa dirinya ingin di definisikan. Untuk my practice, saya merasa bahwa menjaga, dengan metode yang sangat tradisional seperti menggunakan film, kemudian dengan cara ini menciptakan gambar yang kontemporer adalah yang mendefinisikan saya.

Apa yang ingin anda katakan lewat karya-karya anda?

Saya pikir saya lebih tertarik untuk mendengarkan apa yang dikatakan orang saat melihat karya saya.

Apa atau siapa yang menginspirasi anda?

Orang yang bekerja keras setiap hari dan percaya dengan penuh ke dalam visi mereka sendiri, tentang dunia.

Bagaimana singapura mempengaruhi pekerjaan atau karya anda ?

Singapura rumahku, membawa banyak lampiran yang bersifat pribadi kepada saya. Yang mungkin telah, pada tingkat bawah sadar, mempengaruhi cara saya membuat karya. Namun harapanku bahwa suatu hari, sebagai imbalan, dari pekerjaan saya, akan mempengaruhi Singapura di dalamnya segala hal yang positif, mungkin.

Terima kasih untuk waktumu, ada lagi yang ingin disampaikan?

Terima kasih banyak untuk wawancara ini.

http://www.mintio.sg/