Statement
A while ago, I found an old Viewmaster I used to play with as a kid. I was totally mesmerized by this piece of shiny red plastic. It brought back memories instantly. So I started collecting them. Different colours and shapes. Thousands of images. The combinations were endless. My family and friends also started offering me their own viewmasters they had somehow preserved. These were truly treasures from the past and visual memories.
Since they were so personal, I asked relatives if they would accept to be portrayed with the object. This is how began this documentary collection of portraits which is still in progress.

More than portraits in the proper sense, Stereoscopik is based on diptychs. Each portrait is associated to an image. A vision. It could either be what the sitter is really seeing, or it may well be their own memories or even some sort of repressed desires.
As viewers we are not directly confronting the sitter’s gaze, since it is obstructed by the object they are looking through. Instead, we are watching through their eyes. We are connected. The viewers are thus lead to question their own experience and build their own story.

My work relies a lot on memory, whether it is photography, video or other mixed media. We are constantly remembering people, places, moments and things. I try to keep a record of those. Until this work becomes another memory as well.

>>www.mathieuhubert.com

ameliev

Beberapa waktu yang lampau, aku menemukan viewmaster tua yaitu sebuah alat/mainan untuk meneropong gambar secara 3 dimensi(stereoskopik), yang dulu sering aku pakai sebagai mainan waktu masih kecil. Aku begitu tertarikoleh kilau cahaya dari benda plastik berwarna merah ini. Seketika memoriku bergerak jauh ke masa lalu. Kemudian aku mulai mengoleksi beragam warna dan bentuk lainnya dengan ribuan imaji, menjadi kombinasi yang tak berujung pangkal. Keluarga dan teman-temanku pun mulai memberikanku viewmaster milik mereka yang tetap terpelihara. Ini benar-benar menjadi sebuah harta visual, kenangan pada masa lalu.

Sejak benda tersebut kumiliki, Aku meminta mereka untuk ku potret dengan benda tersebut. Begitulah awalnya bagaimana aku memulai mengumpulkan potret-potret ini yang sampai kini masih terus aku lanjutkan.

Lebih dari sekedar potret dalam pengertian yang sebenarnya, Stereoskopik pada dasarnya terdiri dari beberapa imaji dijadikan satu, yang masing-masing imaji saling menjelaskan. Gambar.Yang tampak adalah apa yang benar-benar menjadi pilihan si peneropong, mungkin bagus menurut kenangan mereka atau itu adalah tempat-tempat yang mereka impikan. Sebagai penonton kita tidak secara langsung menghadapi apa yang si peneropong lihat secara langsung, yang lalu terhalang objek yang ada dihadapan mereka. Sebagai penggantinya, kita melihat melalui pandangan mata mereka. Kita saling terhubung. Peneropong dengan demikian menjadipemeran utama untukmenuntun rasa penasaran kita, dari pengalaman mereka masing-masing dan membentuk kisah mereka masing-masing.

Karyaku ini bertumpu sepenuhnya pada ingatan, apakah itu fotografi, video atau mix-media lainnya. Kita secara teru-menerus mengingat orang-orang, tempat, momen dan berbagai hal. Aku berusaha menyimpan dan merekam hal-hal tersebut. Sampai karyaku ini tentu saja menjadi sesuatu kenangan yang indah lainnya. (alihbahasa oleh Jimbo)