home2

Introduction
Loo, john, dunny, bathroom, lavatory, outhouse, WC, longdrop, commodities, powder-room, crapper, throne, porcelain god, washroom, toilet, can, urinal, facilities, pisser, comfort station, head, water-closet, little boys’ room, shitter, pot, nettie, bog, …So many names refer to the same mundane object. This boundless terminology reflects human beings’ natural fascination with the toilet. Taboo subjects that have provoked deep interest throughout the ages are known by many names – consider death, drugs and copulation, to name a few. Terms for the toilet all describe the smallest room in the house, in the backyard, on the boat, or elsewhere. This list is from English alone. To compile a complete list of toilet terminology from all languages would fill volumes. Regardless of how it is referred to, the universal aspect cannot be denied: every human being on earth uses the toilet.

Why toilets? The subject is not nearly as frivolous as it may appear at first glance. Toilets are bay windows with a view on to a given population. The term ‘toiletology’ has yet to be coined, although the study of toilets provides a cultural and sociological analysis of the people who occupy different regions throughout the world. The variety of toilets in different countries is astounding. Toilets often (though not always) reflect the development of a given country or region via design, placement, material and mechanics. Aren’t toilets the same everywhere? In a limited geographical area, perhaps. On an international scale, toilets are very, very different.

The use of the toilet transcends all race, religion, age and social class. From the most impoverished to the highest royalty, each and every one of us bows to the basics of bodily function. Whether one does so in a ditch or on a jewel encrusted throne, the result is the same. The president, the cashier, the supermodel, the writer, the lawyer and the farmer all find themselves subject to this most basic of acts. It is physical gratification from the earliest age on up. The act is philosophical – emptying the body empties the head as well. For how many busy and stressed people is this moment one of the few instants of solitary relief, privacy and contemplation in an otherwise hectic day? Many people confess to having great thoughts, ideas and insights while seated on the toilet.

Why do pigs clean toilets in India? Why are there entire fields of toilets in South Africa? Why are there toilets made of solid gold in Hong Kong? Why are there so many toilets on stilts in Panama? Why don’t the Turkish use toilet paper? Why do the French squat? Why do the Costa Ricans squat? Why don’t Brazilians flush toilet paper? Why do Japanese toilets have eight buttons? Why do urinals pop up out of the ground in London? Why does the space shuttle make ‘people patties’? The answers to these probing questions lie within. Through the pages that follow, take a fascinating and explicit voyage through societies around the globe, continent by continent. A deeper cultural understanding of the world is within reach via the most raw and honest tattle–tale of human civilization: the toilet.

Terdapat begitu banyak nama untuk satu obyek remeh ini. Terminologi yang tanpa batas tersebut sebenarnya merefleksikan ketertarikan manusia secara alamiah pada toilet. Toilet merupakan subyek tabu yang telah memicu ketertarikan selama berabad-abad sejajar dengan, beberapa di antaranya, kematian, drugs serta persetubuhan. Segala istilah yang mengacu pada toilet di atas, seluruhnya menggambarkan ruangan terkecil di dalam rumah, di halaman belakang, dalam kapal, atau tempat yang lain. Istilah-istilah di atas bahkan hanya berasal dari bahasa Inggris saja. Mengumpulkan berbagai istilah toilet dari seluruh ragam bahasa tentunya akan menghabiskan tempat yang tidak sedikit Terlepas dari banyaknya istilah yang dipakai, aspek universal dari toilet tidak dapat dinafikkan: setiap manusia di muka bumi menggunakannya.

Mengapa toilet? Permasalahan ini tidak se-lucu kelihatannya. Toilet adalah suatu rana bidik yang mengarah pada jumlah suatu populasi. Istilah “toiletologi” mungkin belum diciptakan, tapi penelitian terhadap permasalahan toilet mampu menciptakan suatu analisis kebudayaan dan sosiologis terhadap masyarakat yang tinggal di belahan dunia yang berbeda. Keragaman toilet di negara-negara yang berbeda sangatlah menakjubkan. Toilet sering (walaupun tidak selalu) merefleksikan perkembangan dari negara yang bersangkutan, jika ditilik dari segi desain, penempatan, bahan dan sistem mekanik yang dipakai. Bukannya di manapun semua toilet sama? Dalam suatu area geografis yang terbatas, mungkin. Tetapi dalam skala internasional, bagaimanapun juga, toilet berbeda satu sama lain.

Penggunaan toilet melampaui segala ras, agama, umur serta kelas sosial. Dari orang yang paling miskin sampai bangsawan tertinggi, setiap dari kita patuh pada kebutuhan badaniah yang mendasar. Entah kita melakukannya di selokan atau di singgasana bertatahkan berlian, hasilnya selalu sama. Presiden, kasir, supermodel, penulis, pengacara dan petani, semua merupakan budak dari aksi yang paling mendasar ini. Hal itu merupakan sebentuk gratifikasi badaniah yang telah mulai semenjak usia dini. Aksi itu sendiri sangatlah filosofis–dengan mengosongkan badan, kita mengosongkan pula pikiran. Sudah berapa banyak orang-orang sibuk dan mengalami stres merasakan momen yang penuh kelegaan, privasi dan kontemplasi dalam hari yang super sibuk? Banyak orang mengaku bahwa mereka mendapat pemikiran, ide ataupun pandangan hebat justru manakala mereka sedang menggunakan toilet.

Mengapa babi-babi membersihkan toilet di India? Mengapa ada toilet satu lapangan penuh di Afrika Selatan? Mengapa ada toilet yang terbuat dari emas murni di Hong Kong? Mengapa ada begitu banyak toilet yang menggunakan penopang di Panama? Mengapa orang Turki tidak menggunakan tisu toilet? Mengapa orang Perancis berjongkok kala menggunakan toilet? Demikian pula orang Costa Rica? Mengapa orang Brazil tidak mengguyur tisu toiletnya? Mengapa toilet di Jepang memiliki delapan tombol? Mengapa di London pispot dibuat seakan-akan menyembul dari tanah? Mengapa pesawat ulang-alik menyediakan “popok”? Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat anda temui di sini. Dalam halaman-halaman yang akan menyusul anda akan dibawa ke dalam perjalanan yang menarik dan mendetil ke tengah masyarakat yang ada di seluruh dunia, benua demi benua. Pengertian kultural yang komprehensif ternyata bisa dicapai dengan melalui kisah yang paling kasar dan jujur dari peradaban manusia: toilet.
(alih bahasa Dion Wicaksono)